Beratnya perjuangan demi selembar tiket Indonesia Masters

Jakarta,  (ANTARA News)  – Adu mulut yang nyaris berakhir adu jotos,  teriakan histeris perempuan muda yang terjepit di antara ratusan orang antri,  mewarnai suasana di depan loket Istora GBK Senayan Jakarta,  Minggu pagi  

Mereka adalah para calon penonton yang antusias ingin menyaksikan final turnamen bulutangkis Indonesia Masters, di mana tuan rumah Indonesia meloloskan tiga wakil,  termasuk ganda campuran Owi /Butet. 

Pemicu keributan adalah para calo yang berusaha menangguk di air keruh,  dan seenaknya menyalip antrian paling depan. 

“He…kamu,  si muka tembok,  kok seenaknya nyalip.  Kamu tahu nggak kalau saya ini sudah antri dari pukul 05:00 subuh, ” kata seorang perempuan muda berjilbab dengan penuh emosi kepada lelaki paruh baya yang berdiri persis di depannya. 

Lelaki bertopi yang diteriaki tersebut sama sekali tidak bereaksi,  tidak merasa bersalah. 

Jam saat itu menunjukkan pukul 08.00 WIB dan berarti perempuan asal Tanjung Priok tersebut sudah antri selama tiga jam.  Selama itu pula perempuan yang mengaku bernama Adel itu harus melawan kantuk dan gerimis yang sejak subuh menyiram kawasan Senayan. 

Teriakan Adel tanpa dikamando langsung diikuti calon penonton lain,  membuat suasana yang tadinya tenang mendadak gaduh. 

Rasa kesal,  stress karena harus mengantri tiket sejak subuh membuat calon penonton gampang tersulut emosi.  Seorang pria berbadan tegap dan berusia sekitar 30-an,  terlihat adu mulut dan hampir saja menghajar seorang pria yang diyakini calo karena tiba-tiba menyalip antrian. 

“Memangnya saya tidak hapal wajah kamu.   Tadi tidak ikut ngantri,  kok tiba-tiba sudah di depan saya. Dasar tidak tahu diri, ” kata Adel yang bertubuh mungil, tapi semakin berani karena mendapat dukungan dari calon penonton lain yang merasa senasib. 

Beberapa petugas keamanan  berseragam kaos merah pun secara paksa menarik calo tersebut dari antrian. 

Sementara itu,  Adissa,  seorang pelajar SMP dari Pondok Ranji,  terlihat mengawasi dari luar antrian yang mengular ratusan meter. 

“Saya diantar paman saya dan ia yang bantu ngantri,” kata Adissa yang sampai di lokasi sekitar pukul 06:00 WIB 

Kebijakan panitia yang membatasi tiket maksimal dua tiket perorang tampaknya cukup efektif mengatasi calo yang berkeliaran. 

Bentuk fisik tiket yang berbeda dari tiket pada umumnya, yaitu berupa gelang yang langsung dipasang pada calon penonton,  membuat calo tidak berkutik. 
 
Baca juga: (Pratinjau) – Final terakhir untuk Owi/Butet

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Author: admin